Powered By Blogger

Jumat, 16 September 2011

The Provision of Clean Water Network Infrastructure and Urban Fragmentation Based on Splintering Urbanism Theory in Semarang Journal Resume



Kajian yang kritis terhadap kehidupan perkotaan (urbanisme) yang dipenuhi oleh jaringan infrastruktur yang bekerja terus menerus pada networked city akan memberikan cara pandang yang dinamis terhadap perkembangan kontemporer, khususnya berkaitan dengan ruang-ruang tempat aktivitas manusia (Dupuy, 1991 dalam Graham dan Marvin, 2001). Hubungan antara berbagai ruang perkotaan dan semua jenis infrastruktur jaringan (transportasi, air bersih, energi, dan telekomunikasi) dapat dijelaskan secara cross-cutting, komprehensif, lintas disiplin ilmu, internasional (berlaku untuk semua jenis kota negara maju, berkembangdan post-komunis), serta berbagai level analisis spasial (dari level makro-mikro) dengan teori splintering urbanism (penyerpihan perkotaan).
Salah satu sektor yang dikaji dalm penelitian ini adalah sektor air bersih perkotaan. Di Indonesia kurang dari 40 % penduduk kota yang memilikiakses terhadap air minum PDAM, selain itu cakupan pelayanan air minum sistem perpipaan dalam 10 tahun terakhir ini tidak dapat mengimbangi pesatnya tingkat perkembangan penduduk serta SPAM non perpipaan selama 30 tahun terakhir berkembang lebih cepat dibanding SPAM perpipaan. Masalah yang dikemukakan dalam teori penyerpihan perkotaan berkaitan dengan disparitas ruang yang disebabkan adanya privatisasi dan liberalisasi infrastruktur jaringan. Disparitasi ini disebabkan adanya (kaum elit) dan kawasan tempat tinggalnya yang terlayani infrastruktur dengan baik dan sebaliknya.
Terdapat 4 tipe penyediaan air bersih di Kota Semarang digolongkan dalam 2 jenis, yaitu berbasis perpipaan dengan sistem pembayaran melalui jumlah air yang dikonsumsi baik oleh PDAM maupun kolektif/komunal (pengusahaan air bersih perorangan  dan berbasis non perpiaan , seperti sumur pribadi dan pembeli air eceran. Penyediaan jaringan air bersih ini terbagi dua : makro oleh PDAM dan mikro yang terlepas dari jaringan makro. Dari hasil beberapa studitingkat kepuasan masyarakat menunjukkan tettang layanan PDAM yang buruk dikarenakan berbagai masalah pasokan aliran serta kualitas air. Saat ini 58,7%  penduduk yang terlayani oleh PDAM. Pada dasarnya proses unblunding secara ekstrim tidak terjadi melainkan hanya terdisintegrasi melalui berbagai penyediaan,  khususnya munculnya jaringan mikro sebagai solusi penyediaan kebutuhan air bersih, disparitas ruang pemukiman tidak terjadi karena di beberapa kasus pemukiman pada masyarakat berpenghasilan rendah justru terlayani dengan baik. Bundling , tidak pernah terjadi karena jangkauan monopoli yang disediakan oleh PDAM pada masa lampaupu tidak melayani seluruh wilayah kota. Premium networks space tidak selalu diasosiasikan pada ruang premium (perumahan elit) yang terpasok kebutuhan air secara prima dan baik.
Sumber :
Chusaini, Hajar Ahmad. 2010. “The Provision of Clean Water Network Infrastructure and Urban Fragmentation Based on Splintering Urbanism Theory in Semarang”. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, Vol 6, Desember 2010, hal 67-75.

Selasa, 13 September 2011

Dasar - Dasar Teori Von Thunen


Dasar Dasar Teori Von Thunen

Johan Heinrich Von Thunen ialah seorang ahli ekonomi pertanian dari Jerman yang pada tahun 1826-1850 mengeluarkan teori yang tertuang dalam buku Der Isolirte Staat. Teori Von Thunen lebih di kenal sebagai teori lokasi pertanian. Von Thunen berpendapat bahwa pertanian merupakan komoditi yang cukup besar di perkotaan. Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa sewa suatu lahan akan berbeda-beda nilainya tergantung tata guna lahannya. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota. Von Thunen menciptakan bagaimana cara berfikir efektif yang didasarkan atas penelitian dengan menambahkan unsur-unsur baru sehingga didapatkan hasil yang mendekati konkret. Von Thunen mengeluarkan 7 asumsi mengenai tanah pertanian. Teori ini dikeluarkan sebelum era industrialisasi.
1.        Terdapat suatu daerah yang merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian (Isolated Stated).
2.        Daerah perkotaan hanya menjual kelebihan produksi daerah pedalaman, tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain (Single Market).
3.       Daerah pedalaman hanya menjual kelebihan produksinya ke perkotaan, tidak ke daerah lain (Single Destination).
4.        Daerah pedalaman atau kota mempunyai ciri yang sama (homogen) dengan kondisi geografis kota itu sendiri.
5.       Petani akan menanam tanaman yang dapat memberi manfaat dan profit maksimum. Jenis tanaman yang ditanam rata-rata mengikuti permintaan yang ada (Maximum Oriented).
6.       Pada waktu itu hanya ada angkutan berupa gerobak yang ditarik oleh kuda (One Moda Transportation).
7.       Biaya transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh. Semua biaya transportasi ditanggung oleh petani (Equidistant).
Dari ketujuh asumsi diatas memaksa petani untuk menyewa lahan dekat dengan pusat pasar atau kota. Dengan begitu akan diperoleh keuntungan yang maksimal dari hasil pertanian. Tetapi mereka juga harus rela mengeluarkan banyak uang, karena semakin dekat dekan pusat pasar harga sewa lahan akan semakin mahal. Petani sendiri memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyewa lahan. Makin tinggi kemampuan petani untuk menyewa lahan maka ia akan mendapatkan lokasi yang semakin dekat dengan pusat pasar.Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan lokasi mempengaruhi nilai harga lokasi sesuai dengan tata guna lahannya.Hingga saat ini teori Von Thunen masih dianggap cukup relevan.
Teori Von Thunen yang masih relevan dengan kondisi sekarang contohnya adalah kelangkaan persediaan sumber daya lahan di daerah perkotaan memicu berlakunya hukum ekonomi supply and demand semakin langka barang di satu pihak semakin meningkat permintaan di pihak lain akibatnya harga melambung. Demikian yang terjadi terhadap lahan yang ada di daerah perkotaan, dimana nilai sewa atau beli lahan yang letaknya dipusat kegiatan, semakin dekat ke pusat semakin tinggi nilai sewa atau beli lahan tersebut. Kelangkaan lahan di kota-kota besar dikarenakan sebagian besar dimanfaatkan sebagai pertokoan , dan harganya cenderung sealu naik mengikuti perkembangan yang terjadi dari tahun ketahunnya.
Namun, dari segi lain teori Von Thunen ini juga tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kemajuan transportasi dapat menghemat banyak waktu dan biaya, ada beberapa daerah yang tidak hanya memiliki 1 merket center saja tetapi juga 2 market center; Adanya berbagai bentuk pengawetan sehingga mencegah resiko busuk pada pengiriman jarak jauh; Kondisi topografis setiap daerah berbeda-beda, sehingga hasil pertanian yang akan dihasilkanpun akan berbeda; Negara industri mampu membentuk kelompok produksi sehingga tidak terpengaruh pada kota; Antara produksi dan konsumsi telah terbentuk usaha bersama menyangkut pemasarannya. Meskipun demikian, tetap terdapat hubungan yang kuat antara sistem transportasi dengan pola penggunaan tanah pertanian regional.
Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa sewa lahan akan memiliki harga yang berbeda, tergantung dengan tata guna lahannya. Lahan yang berada di pusat kota akan memiliki harga sewa lahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sewa lahan di daerah pedalaman atau pinggiran kota. Karena makin jauh jarak yang akan ditempuh, maka makin mahal biaya transportasi yang akan dikeluarkan. Selain itu petani juga dapat mengurangi resiko membusuknya hasil pertanian karena jarak yang ditempuh cukup jauh dari pusat kota.

Analisis Lokasi danPola Ruang


Analisis Lokasi dan Pola Ruang
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77).
 Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction) dan gerakan (movement).
Tujuan dari analisis keruangan adalah sebagai berikut :
1.       Mengukur apakah kondisi yang ada sesuai sesuai dengan struktur keruangan
2.       Menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan
3.        Aksesibilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah, dan hambatan interaksi, hal ini didasarkan oleh adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain,
Lokasi dalam Ruang terbagi menjaadi dua , lokasi absolut dan lokasi relatif.
Lokasi Absolut diartikan sebagai posisi geografis, sedangkan lokasi relatif berkaitan dengan kondisi lingkungan sekitar  (karakteristik wilayah menentukan lokasi relatif).
Dalam memutuskan dimana melokasikan sesuatu harus terkait dengan masalah lokasi . Masalah lokasi menyangkut dua hal :
1.       Fungsional : siapa saja yang terlibat
2.       Areal : seberapa besar cakupan wilayahnya
Contohnya dalam menentukan lokasi fasilitas umum sebagai berikut :
Pabrik                   : dialokasikan pada akses yang mudah dan pada tanah yang lapang
Asrama                 : dialokasikan di dekat sekolah
Kuburan               : dialokasikan di tanah yang tidak produktif
Sistem ekonomi sebagai dasar dalam Analisis lokasi , faktor produksi merupakan bagian dari sistem ekonomi . Faktor produksi meliputi bahan baku, energi, lahan, tenaga kerja dan modal.
Faktor yang menjadi dasar dalam analisis lokasi , selain sitem ekonomi yaitu : manajemen, skala produksi, keterkaitan , biaya transportasi,dan faktor lokasi yang bersifat intangible , seperti lingkungan bisnis, faktor kesejarahan dan preferensi perorangan dan perusahaan.
Faktor-Faktor Pokok Penentu Pemilihan Lokasi Industri
- Letak dari sumber bahan mentah untuk produksi
- Letak dari pasar konsumen
- Ketersediaan tenaga kerja
- Ketersediaan pengangkutan atau transportasi
- Ketersediaan energi
Dimensi Analisis Lokasi terbagi dua :
1.       Deskriptif menjelaskan fenomena yang terjadi (apa dan mengapa)
Contoh : Mengapa banyak “bom” di Bali ? (karena Bali merupakan salah satu tempat investor banyak menanam modal)
2.       Normatif menjelaskan bagaimana seharusnya optimal
Contoh : Pusat perbelanjaan harusnya ditempatkan di pusat kota , agar mudah diakses dari berbagai penjuru dan umumnya sifat masyarakat kota yang konsumtif.

Minggu, 11 September 2011

Kepemimpinan


I.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia selalau berinteraksi dengan sesama dan lingkungan dalam hidupnya. Manusia selalu hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai dan keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.

I.2 Rumusan Masalah
Jiwa kepemimpinan harus tertanam dalam jiwa manusia. Untuk itu perlu dijabarkan Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?

I.3 Tujuan Penulisan
Penyusunan makalah ini bertujuan agr mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dan kearifan lokal.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat  Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari – hari, sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
1.        Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
2.        Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
3.       Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan..
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
1. Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
2.  Fungsi sebagai Top Mnajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.
2.2 Teori Kepemimpinan
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
1.        Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
1)       Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
2)       Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
3)       Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
4)       Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya
2.        Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin berdasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah dua hal.
1)       Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
2)       Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
3.        Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
4.        Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
5.        Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berarti telah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda – beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah yang dimaksud dengan situasional lesdership,sebagaimana telah disinggung di atas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
1.         Kemampuan analitis (analytical skills) yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
2.          Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills) yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.
3.          Kemampuan berkomunikasi (communication skills) yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang kita terapkan.
Ketiga kemampuan di atas sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin, sebab seorang pemimpin harus dapat melaksanakan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal, peran pengolah informasi (information processing), serta peran pengambilan keputusan (decision making) (Gordon, 1996 : 314-315).
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. I don’t think you have to be waering stars on your shoulders or a title to be leadar. Anybody who want to raise his hand can be a leader any time”,dikatakan dengan lugas oleh General Ronal Fogleman,Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat yang artinya Saya tidak berpikir anda menggunakan bintang di bahu anda atau sebuah gelar pemimpin. Orang lainnya yang ingin mengangkat tangan dapat menjadi pemimpin di lain waktu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan. Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

3.2 Saran
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.
Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.






DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1996.http.//. www.anneahira.com.”motivasi kepemimpinan”dalam Hakikat kepemimpinan. Diunduh, 11 September 2011.

Anonim. Tanpa Angka Tahun. http.//.digilib.usu.ac.id.” Kepemimpinan Dalam Organisasi” dalam Arti Kepemimpinan dan Manajemen Yang Fungsi Melaksanakan. Diunduh, 11 September 2011.

Prayitnoadi, Priyoko.http.//. srisetya.staff.gunadarma.ac.id. “Rahasia Kepemimpinan” dalam kepemimpinan memegang peran yang penting dalam suatu organisasi apapun. Diunduh, 11 September 2011.